Status



Dari jaman gue SD, status ini jadi topik utama sehari-hari. Maklum, SD gue termasuk SD yg berisi manusia-manusia elit yg dimana gue tidak termasuk dan memang dipersiapkan untuk tidak dimasukkan. (ribet ya? intinya mah i’m not counted inside the list lah) Tapi jeleknya, paradigma status ini mau ga mau kebawa dari hari kehari. Yang disalahkan? ya lingkungan. Mau ga mau otak kecil imut gue kebawa pandangan dimana si ini keren si itu engga. si keren berteman dengan si keren atau atleast si berbakat. sementara si engga keren berteman dengan si pendiam yang kutubuku dan si banyak omong tapi berbadan terlalu kecil dibanding anak2 SD lain. Diskriminasi fisik? pasti. Yang lebih parah, di SD saya ada yg namanya diskriminasi tempat tinggal. Karna tempat tinggal ternyata berhujung kepada satu hal: status.

Gak berhenti di urusan temen dan tmpt tinggal, urusan pergi kemana pun jadi masalah. si keren dkk pergi ke mall A nongkrong di deket bioskop. si engga keren dkk ga boleh nongkrong disitu, dan kalaupun boleh ujung2nya si engga keren dkk bakal minder karna mereka sadar dimana kotak mereka berada.

Paradigma jelek ini ternyata kebawa sampe gede. Sampai umur segini, kadang-kadang gue suka nge-judge orang lewat tempat dimana dia nongkrong dan dengan siapa dia nongkrong. Sampai umur segini, gue masih berfikir bahwa gue harus bermain dengan si anu jika mau dianggap begini, dan jika mau dianggap begtu, gue harus kenal dengan si ini. Sampai umur segini kadang-kadang gue terpikir untuk mengejar status dibandingkan hal lain.

Hal ini jelek sebenernya untuk kita. Tapi mau seberapa kuat gue mau menghapus ini, diluar sana memang masih banyak yang menilai diri gue sendiri dari hal2 diatas. Penilaian ini bukanlah hal kecil, karna terkadang hal ini berhujung kepada kehidupan sosial yang lebih baik dan lebih besar lagi, karir yang baik, nama yang baik.

Tapi apakah ini sehat? tentu saja tidak. Susah dielakkan? selalu. Gue ingat tulisan salah satu blogger idola,bahwa kita hidup dalam strata. Mau bagaimanapun kita pungkiri, selalu saja ada yg memandang kita rendah atau tinggi dan sebaliknya kita kepada mereka.

Ketidaksehatan ini membawa gue kepada satu kesimpulan: saya harus berbuat sebaik2nya untuk diri saya, untuk orang lain. Urusan orang ngeliat gue gimana, yang penting gimana gue bisa ngeliat sisi positif dia dan mengesampingkan yg negatif.

Tapi lagi2 otak gue yg sangat wise ini gak singkron sm kelakuan gue yang cheesy. SIGH. Ini harus berubah. Kalau tidak, wah.. panjang urusannya. Kaya tulisan ini…

04/04/10 at 2:52pm
2 notes
  1. primavista reblogged this from seratsehat
  2. seratsehat posted this