Kesempatan Kedua

              

Kepulauan Seribu. 2006.

Dua kepala menengadah menatap langit biru diantara kepulauan seribu.

Orang yang saya tunggu-tunggu untuk bertemu akhirnya cuma berjarak 10 centi dari saya.
Terakhir ketemu dia baru masuk kuliah. Ganteng. Pinter. Jago main gitar. well, yang terakhir itu saya gak gitu tau sih. Tapi, at least itu yang dulu dia pertontonkan ke saya yang waktu itu baru lulus SMP.

Sekarang orang itu lebih dewasa, dengan kehangatan yang sama.
Dia menoleh. Dan mata yang saya tatap lama 4 tahun lalu sekarang menatap saya sekali lagi.

“Enak ya ngeliatin langit begini.. liat deh, awan yang itu bentuknya apa?

Saya berusaha melihat awan yang dia tunjuk, walaupun sebenarnya lebih tertarik melihat kesebelah daripada menengadah.

“Emang apa bentuknya?”
“Hmm.. yang itu sedikit kaya gajah sih”
“Oia? kok gue ngeliatnya kaya..”

saya berfikir keras. Susah konsentrasi karena keliatan dari sudut mata ternyata dia menoleh lagi.

“Kaya apa?”
“Lemper”

Ya, karena susah konsentrasi dan menghayal bentuk awan, saya terpaksa menjawab asal. Dia tertawa, lepas. Deretan gigi yang rata, dagu yang saya ingat lancip sekarang ditumbuh jenggot tipis.
Saya gak sadar ikut tersenyum dan bertanya,

“Gak kaya lemper ya?”
“Enggak lah..”

Kali ini saya memberanikan diri bertanya dan menatap dia. Agak lebih lama.

“Terus kaya apa?”
“Hmm.. awan yang itu, bentuknya kaya.. awan.”

Harusnya, kalau di film-film Hollywood, di scene ini udah waktunya kami berciuman. Tapi, karena ini dunia nyata dan kami bukan siapa-siapa,kami hanya tertawa. Dan tawa ini cukup menjadi penutup sebelum kapal kembali bergerak berangkat pulang.

06/24/11 at 6:06am